Autumn

When the leaves turn brown, the scent of the air is the best, you must be in autumn...

Winter

Suddenly tiny ice flakes fell down and all of places turn into romantic sites

Light Pageant

One of most beautiful site I visited in Japan

Line Follower Robot

Simple but very precious for me. Roughly speaking it does change my life up to now.

Laboratory card member

Currently student in Nakazawa Laboratory, Tohoku University. Lab's specialty is Ultrahigh speed optical communication.

Labortory Experiment

Ultrahigh Speed Optical Communication

Hijab Traveller- Osaka, Japan

ヒジャビトラヴェルー大阪

Osaka is Japan's second largest metropolitan area after Tokyo. It has been the economic powerhouse of the Kansai region. Osaka is nicknamed "Japan's kitchen" and is known amongst the Japanese people as the city of gastronomy. For us, as a muslim, is it safe enough for us to eat everything in "Japan's kitchen"? Or we better to keep off from food we don't really know well about the ingredients, etc. Unfortunately, it might be true because I can say most of the famous foods are contained pork,lard, mirin in the soup usually, or even the animals (beef or chicken) slaughtered without mentioning the Name of Allah upon them. 

But, don't worry! There are so many HALAL restaurant in Osaka. Furthermore Japan now has become more Muslim friendly country. There're so many ways to enjoy Osaka.. Let's check it out....

1. Osaka Castle 大阪城

You probably can find a brief history about Osaka Castle and every single detail about it from wikipedia or other site. So instead of explaining about that,  I'll tak about Osaka Castle just from my perspective  at the first place.
Osaka Castle is very crowded especially in the weekend. Sometimes even it's on weekdays, still there are so many tourists there. Osaka Castle is very easy to reach by train and if you just want to stroll around, take a picture with the big Castle just like what I did, you don't need to pay for anything. You're lucky if you go to Osaka Castle when there is a summer, new year, or any other festival. There will be so many stalls who sell traditional Japanese food, people do some attractions, beautiful fireworks and illumitation in the night, etc. However, once again...it's so much crowded...
The picture below was took around 7 a.m in the morning (Not so much people, right!). In addition, Osaka Castle area is a very big and nice park to do morning jog or excercise.
Osaka Castle is so beautiful (October 2016)

Osaka Castle on the early morning (October 2016)
REVISIT? Yes! Yes! Yes!

2. Tempozan Ferris Wheel 観覧車

The Tempozan Ferris Wheel is the Osaka's largest. It offers far-reaching, panoramic views of the bay area and the city's skyscrapers beyond from a height of 112.5 meters. It takes approximately 15 mins to finish one rotation inside the car. Basically there're 2 types of cars, the first is a transparant glass door car and the other just a normal car. Even though I rode the ferris wheel twice yet I never tried the glass-door once due to its high number of queue (I don't like waiting on the line).

First time going to Tempozan Ferris Wheel in the night (Dec, 2014)


The view of Osaka. 2nd time going to Tempozan Ferris Wheel (Sep, 2016)
REVISIT? Yes! Yes! Yes! I really love to ride the giant ferris wheel

3. Get on Santa Maria Cruise Ship

One of the most exciting trips I took in Osaka is on the Bay Cruise Osaka Santa Maria, which is a replica of the sailing ship in which Columbus discovered.  It is 45 minutes excursion cruise around the bay of Osaka, starting from Tempozan Harbour Village. The pirate style ship houses indoors restaurant and also an exhibition below.

The Cruise Ship

I remember the pirate ship in "One Piece" 
You can also enjoy the beautiful twilight from the top of the cruise ship



REVISIT? Yes! But it's little bit costly for one ride so it's better you have an Osaka's sightseeing One Day Pass Card (it will cost you no charge for both entering inside some designated tourism objects or riding trains/subways around Osaka. HIGHLY RECOMMENDED)

[To Be Continued]

Meneladani Imam Syafi'i

Imam Syafi'i berkata, kehebatan seseorang terletak pada 3 perkara:
1. Kemampuan menyembunyikan kemelaratan, sehingga orang lain menyangkamu berkecukupan karena kamu tidak pernah meminta.
2. Kemampuan menyembunyikan amarah, sehingga orang mengiramu merasa ridha.
3. Kemampuan menyembunyikan kesusahan, sehingga orang lain mengiramu merasa senang.

Imam syafi’i adalah salah satu dari empat imam madzhab, nama aslinya adalah Abu Abdullah Muhammad bin Idris As Syafi’i.

Lahir di gaza, palestina pada tahun 150 hijriah dan masih memiliki jalur nassab dengan Rasulullah salallahu alaihi wassallam. Ayah imam syafi’i memiliki jalur nassab yang bertemu dengan nassab Rasulullah salallahu alaihi wassallam di ‘Abdu Manaf bin Qushay (kakek ketiga rasulullah) dan ibunya masih merupakan cicit Ali bin Abi Thalib r.a.

Semenjak usia 9 tahun, beliau sudah bisa menghafal (hafidz) al-quran 30 juz. Setahun kemudian beliau menghafal 1.720 hadis karangan imam malik dalam kitab Al Muwatha’.

Imam syafi’i memiliki kecerdasan yang tinggi bahkan ketika beliau masih berumur 15 tahun beliau sudah dipercaya untuk bisa memberikan fatwa di kota mekah.

Semakin banyaknya ilmu yang dimiliki Imam Syafi’i tidak membuat ia lantas sombong. Namun sebaliknya, dia semakin merendah, semakin tawadhu, dan semakin kuat imanya karena semakin mengenal kebesaran Tuhannya.

Prilakunya pun semakin berwibawa, semakin bijaksana, semakin cerdas, dan semakin tawadhu atas dasar sifat inilah imam syafi’i tidak pernah putus untuk menuntut ilmu.

Perkataan-perkataan Imam Syafi’i tidak pernah mengandung kata-kata kebatilan. Melainkan sebaliknya, kata-kata yang keluar tersyirat banyak makna, kewibawaan, kebijaksaan, dan kebaikan untuk umat islam di dunia.



PIMNAS 29 - Kontingen Universitas Indonesia PKM-Karsa Cipta


8-12 Agustus 2016

Merupakan hari yang cukup bersejarah bagi saya. Pekan tersebut merupakan pekan diadakannya PIMNAS yang ke-29 di Institut Pertanian Bogor (IPB), sebagai tuan rumah tahun ini. Awalnya saya benar-benar tidak menyangka jika alat kami yang kami beri nama RTTS (Real-Time Telemonitoring System) dapat melaju ke PIMNAS. Pasalnya, saat monitoring evaluasi external terakhir, saya berhalangan hadir dan tim saya hanya diwakili oleh 3 orang teman saya.

Sebenarnya, pengumuman dari DIKTI tentang siapa saja yang berhak melangkah ke PIMNAS baru dipublikasikan seminggu sebelum PIMNAS tersebut dilaksanakan. Alhasil kalang kabut lah kita. Rekan saya yang berperan sebagai software-hardware-engineer sekaligus pencetus ide ini sudah bekerja dan harus menghabiskan waktunya setiap hari di kantor. Kami pun hanya bisa mengerjakan bersama di malam hari. Setiap malam akhirnya kami habiskan untuk mengerjakan alat, membuat web, poster, menyusun laporan akhir, mengorganisir powerpoint, dll. Di pagi harinya kami biasa melakukan drilling presentasi dengan dosen di UI. Lelah memang, terlebih ini kali pertamanya bagi kami mengikuti ajang karya tulis ilmiah (apalagi ini tingkat Nasional dan nama baik UI).

Sekarang, marilah kita tela'ah lebih lanjut selama sepekan, kompetisi ilmiah tersebut berlangsung.

8 Agustus 2016


Hari pertama PIMNAS. Kontingen UI berangkat dari rektorat UI, dan saya menjadi orang yang paling ditunggu (read: paling telat datengnya hihi). Jadi, semalaman saya dan tim menginap di kampus untuk menyelesaikan alat, ppt, dll. Alhasil kami baru bisa kembali ke kos pada pukul 4.00 pagi (dalam kondisi belum tidur seharian). Saat itu juga saya mulai tidur~ dan hasilnya kesiangan. /oke skip/.
Sesampainya kami di IPB, ternyata kontingen UI terbilang sangat tidak prepare (kelompok saya). Kami tidak membawa print out registrasi, foto diri, dll... Alhasil, paniklah kami. Saat itu saya kira, jika telah melakukan semua registrasi online, maka tidak perlu lagi repot-repot mencetak formulir dan semua dokumen yang telah kami upload (masukan juga nih buat panitianya).

9 Agustus 2016

Poster Presentation Day! Hari ini merupakan hari di mana penilaian terhadap poster dilakukan. Hanya ada satu orang yang boleh menjaga booth poster. Terdapat tiga orang juri yang bertugas memberi penilaian.
Setelah presentasi poster, siangnya akan langsung diadakan penilaian presentasi terhadap karya tulis. Kelompok yang maju ke depan ditentukan berdasarkan undian yang dilaksanakan saat itu juga. Akan tetapi tim kami belum kebagian maju pada hari itu.
Alhamdulillah hari itu berjalan lancar.

10 Agustus 2016

Presentation day! Hari ini kami maju melakukan presentasi. Awalnya saya sangat nerves, karena kelompok yang lain bagus-bagus presentasinya menurut saya. Tapi, sekarang bukan saatnya untuk minder! Ini adalah waktu yang tepat untuk menunjukkan kemampuan kami tim dari UI, mengerahkan segala yang kami punya, mengasah ide dan otak untuk menggali pengetahuan untuk menjawab semua pertanyaan dewan juri.
Alhamdulillah, saat presentasi selesai, lega sekali. Rasanya kami telah melakukan yang terbaik yang dapat kami lakukan :)

11 Agustus 2016

Pengumuman Juara Poster

Sehabis maghrib, kami bersiap menuju GGW IPB untuk menyaksikan penutupan PIMNAS sekaligus pemberian penghargaan kepada juara. Saat itu banyak anak-anak BEM yang datang jadi supporter. Semakin deg-degan, takut kalau kami nanti mengecewakan. Satu persatu acara penutupan pun di mulai. Tibalah saat pembacaan peraih medali. Diawali dengan peraih medali kategori Poster untuk PKM-GT. Jujur, saya menaruh harapan yang sangat besar untuk kategori poster ini. KArena saya rasa, di kelas para presenter nya bagus-bagus, bombastis, dan sangat meyakinkan (walaupun sebenarnya menurut saya pribadi alatnya biasa saja mereka :peace :v). Dari mulai awal sampai akhir dibacakannya pengumuman medali untuk kategori poster, kontingen UI tidak juga ada yang berhasil menyabet medali. Sampai tibalah waktu PKM-KC Kelas 4 diumumkan terakhir. Saya sangat deg-degan karena saya pikir hanya inilah harapan kami. Akan tetapi, kami belum diizinkan menang untuk kategori poster. Sudah lemas sih sebenarnya, tidak berharap pada presentasi.

Pengumuman Juara Presentasi

Universitas lain telah banyak disebutkan mendapat medali dan maju ke podium. Saat itu saya sudah pesimis. Akan tetapi tiba-tiba nama UI diumumkan sebagai peraih medali perunggu untuk PKM-P dan emas untuk PKM-M. Saat itu saya sangat bahagia, walaupun PKM-KC belum diumumkan. SEtelahnya, tiba saatnya diumumkan mengenai PKM-KC, dari kelas 1-2-3 Tim UI belum beruntung mendapat medali. Sampai akhirnya diumumkan untuk kelas terakhir dan sekaligus menutup acara pemberian medali, tim kami, RTTS dari Universitas Indonesia dipanggil sebagai peraih medali perunggu. Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT dengan segala karunia-Nya.



Final Project | Skripsi | Final Year Student

Hello minna-san... it's been a long time since I visited my own blog :(
One of the reason is because I was so busy with academics stuff, and the other reason is because it was little bit hard to find a proper internet connection, unlike in Japan.

Well, talking about final project.. It is a compulsory project that every final year student should do. And I took it during my 7th semester XD

Was it tough?  YES, IT IS
However, there's nothing you can't endure. It's just the matter of how much perseverance that you could give for something.

Actually, I was so lucky to have my project done while I studied in Japan backthen. So, in indonesia I only had to write it down into a booklet of "skripsi book". I took 4 months to complete it and submit it in university library...

Here it is.. 4th January 2016, I was succesfully defending my final project defense in front of 3 lecturers in Electrical Engineering Department, Universitas Indonesia. So happy, but still long way to go.

Before and After the defense...
Excitement and More Excitement ♡♡♡ Thank you!


Meanwhile after final defense (sidang skripsi) 
A huge thanks I delivered to those honourable teachers :')







International Conference | Trip to BANDUNG

Good morning everyone!
Thank you for coming to this page. A huge thanks I delivered for you :)

--Part One--

The Conference


So, this post is basically about my experience when I had an international conference about optics in Bandung, West Java. My paper was selected to be presented on ICACOMIT (International Conference on Automation, Cognitive Science, Optics, Micro Electro-Mechanical System, and Information Technology).
The event date was on 29-30 October 2015. Almost all of the presenter are holding a bachelor degree already. But I still had my confidence, of course. The venue was in Hotel Aston Tropicana BANDUNG, but I chose to stay in my high school friend's rent house. Yeah, my friend is studying in Institute Technology of Bandung, West Java. 

Actually that was my first time coming to Bandung.. I think Bandung is nice city. So many beautiful places, delicious foods, etc. Nevertheless the traffic jam is still a problem. And also public transportation is not so supportive, accessible, and understandable enough for a tourist like me :( I went around Bandung city by walk because I didn't know the route of "angkot", and of course I didn't want to spend much money for getting into cab hihihi.

Me! At the conference venue


Trip to Milano, Italia on Summer 2015

About 2 months ago I went to Milano, Italia for a conference as well as short trip. Here's the report!

Milan. Just the sound of the name conjures up visions of fashion show runways and beautiful models.Italy was not cryogenically frozen six centuries ago, and Milan is the pulse-quickening proof. After all, visitors flock here not only for La Scala opening nights and Leonardo da Vinci's Last Supper, but also for spring and fall fashion weeks, chic designer showrooms and modern art fairs. Modern Milanese are audacious, industrious daydreamers.

1. DUOMO


Five hundred years in the making, Milan’s magnificent gothic cathedral sublimely dominates the city’s central piazza. No matter how many times you see it, its pearly white facade of petrified pinnacles elicits a little gasp of awe. Head up to the roof for a heavenly view of its spires and a vertigo-inducing perspective of the piazza with the Galleria Vittorio Emanuele II, Europe’s oldest shopping mall, to your right and the Royal Palace to your left.




Then swap old for new next door in Milan’s modernist showcase, the Museo del Novecento. As you rise up the spiral ramp through 20th-century neo-impressionists, futurists, surrealists and spatialists, you can trace the story of the city through fascism, two World Wars and the dawn of the technological era.

2. NAVIGLI

In front of the castle catch vintage tram #1 and trundle south on its wooden benches to the neighbourhood of Navigli. Here, Milan’s medieval network of canals rise to the surface and are lined with bookshops, boutiques and bars. As the most fashionable Bohemian ‘burb in the city, Navigli is home to thriving community of artists and musicians making this a great place to stroll and shop.



[TO BE CONTINUED]




How to Survive in Japan with Low Cost Student Mode | Cara bertahan hidup di Jepang


Currently I am studying in Tohoku University, Sendai-shi, Miyagi-ken, JAPAN. Before I stepped on this rising sun land, tons of insecurity about "survival" things were so bothersome.
I got scholarship from JASSO 80,000 yen per month but I wasn't pretty sure it would be enough for surviving here, on the land of "top 10 highest living cost country" across the globe.

Saat ini, saya sedang menjalani student exchange di Tohoku University, Sendai, Miyagi, Jepang. Sebelum keberangkatan, tentunya saya sangat khawatir apakah dengan bermodalkan besiswa dari JASSO sebesar 80,000 yen per bulan saya dapat bertahan hidup , mengingat Jepang adalah negara dengan biaya hidup yang cukup tinggi.

Harga Sushi di convenient store


Tidak terasa 8 bulan lebih saya sudah hidup di Jepang. Ternyata tidak semenakutkan yang saya kira, untuk masalah finansial. Saya masih bisa makan 3 kali sehari (bahkan suka lebih), seminggu sekali makan di restoran, jalan-jalan keliling jepang (kanto,kansai,hokkaido), bahkan Alhamdulillah sampai jalan-jalan ke eropa dengan tabungan JASSO. Nah, sekarang saya akan mengulas tentang kiat-kiat saya, tips dan trik bertahan hidup di jepang dengan low cost.

1. Biasakan masak di rumah

Masakan jepang memang menggiurkan, apalagi kalau anda berada di jepang. Rasanya ingin makan di luar terus, setiap hari. Tapi, harga makanan yang telah jadi dibandingkan dengan bahan-bahannya saja cukup jauh rentang harganya. Hal ini terjadi karena di Jepang, upah pegawai cukup tinggi sehingga makanan jadi yang memanfaatkan jasa chef atau pelayan restoran menjadi tinggi harganya (tapi sangat enak!). Kalau 3X sehari makan di luar terus menerus sepertinya akan rugi juga ya.. Bayangkan, misalkan anda beli makan di konbini (convenient store) yang harganya paling tidak 300-500 untuk makanan porsi makan siang. 500x3 kali sehari = 1,500. 1,500x30 hari dalam satu bulan =45,000. 45,000 yen untuk makan makanan konbini 3x sehari. Belum lagi ditambah uang sewa apato (apartment) yang pasti diatas 25,000 yen tiap bulan
(kalau saya sih di asrama, biaya tagihan perbulan biasanya sekitar 12,000 yen), bayar air, gas, asuransi, transportasi, dsb. Belum lagi kalau ingin jajan di luar, beli es krip, buah, dsb.
Namun, jika anda masak.........
Belanja di supaa (supermarket) at least sekali seminggu dan menghabiskan 3000 yen perminggu (sudah termasuk beli ayam, sayur, es krim, dsb). Beli beras 10 kg paling murah Rp 1,700 yen bisa untuk makan 2 bulan (untuk yang makannya porsi kuli, untuk wanita seperti saya biasaya bisa 2.5 bulan :p *sesama porsi kuli mah saya).
Jadi untuk makan 3,000x4 minggu sebulan - 12,000 yen + beras sebulan 800 yen = 20,000 yen sebulan! Itu untuk makanan pokok ya, kalau mau makan diluar sekali-kali ya silahkan... dan percaya deh, kalau kita sering masak di rumah, sekalinya makan di restoran akan terasa sangat nikmat. Saya sih biasanya makan di kaiten sushi restoran (seperti genki sushi) atau ke italian atau japanese restaurant bersama sahabat-sahabat saya saat weekend. Kalau weekday agak susah meet up teman, masa mau makan sendirian (ngga enak bro).

masak bersama teman-teman


a proper meals at the restaurant with friend (my first restaurant's meal in japan ever)

memanggang takoyaki bersama sahabat

2. Setiap hari masak nasi

Sebagai orang indonesia, kita tak bisa terlepas dari nasi sebagai makanan pokok kita. Mengingat harga nasi matang dan beras jauh berbeda, maka akan lebih menguntungkan untuk kita selalu memasak nasi. Terkadang kesibukan kuliah membuat kita malas masak karena kita harus bangun pagi-pagi (gak pagi-pagi amat juga sih), berangkat ke kampus, dll. Tapi satu hal yang jangan sampai terlewat. Bawa nasi. Tidak "fresh from the oven" tidak masalah. Masukin aja nasi persediaanmu (yang mungkin masaknya kemarin malamnya sebelum tidur) ke dalam kotak makanmu. Jangan kawatir makan nasi dingin, kalau di kampus kita bisa memanfaatkan microwave yang ada di kampus untuk menghangatkan kembali nasi kita. Kemudian kita tinggal beli lauknya di cafetaria. Biasanya saya makan ikan dan sayuran berkisar sekitar 100-250 yen sekali makan untuk lauknya saja. Karena saya sudah bawa nasi, maka saya tak perlu membeli nasi . Berikut harga nasi di kantin, porsi kecil 54 , sedang 64 yen, besar 97 yen, super besar 127 yen. Karena saya makannya selalu porsi besar, jadi untuk saya, lebih menguntungkan kalau bawa nasi sendiri sebanyak yang saya mau.
soba with tempura di kantin kampus
meal di kampus


3. Naik Sepeda supaya sehat

Tampak atas dari sepeda saya (yang telah menemani saya selama ini)

Transportasi di jepang sangatlah mudah. Banyak jalur kereta, subway, bus, dsb. Namun, karena jepang adalah negara maju dengan upah pekerja dan biaya maintenance tinggi, maka sekali lagi, tarif transportasinya juga sangat tinggi. Untuk naik bis saja, jauh dekat 230 yen. Naik kereta dan subway 140-400 yen untuk jarak dekat. Tentunya setiap hari kita butuh mobile dong, inginnya sih tanpa mengeluarkan ratusan bahkan ribuan yen tiap harinya. Solusinya adalah, naik sepeda. Sepeda merupakan salah satu alat transportasi utama di Jepang, maka tak heran, pemerintahkan bahkan sampai punya policy sendiri untuk para pesepeda. 
Kalau ingin membeli sepeda baru di toko sepeda, harganya berkisar antara 8,000-..... untuk geared bike. Kebetulan saya beli sebeda di bazaar. Walaupun second tapi masih bagus dan memiliki gear. Hanya 4000 yen saja. Setiap hari saya mengayuh sepeda untuk mobile dari tempat satu ke tempat yang lainnya.

4. Tidak membeli paket internet

Membeli paket internet di jepang, berarti anda harus membeli hape di jepang (kontrak) atau kontrak pocket wifi. Atau bisa juga sebenarnya membeli sim card tapi harus menggunakan kartu kredit, sementara saya belum punya kartu kredit. Agak susah memang. Al hasil, selama saya tinggal di jepang, saya tidak pernah membeli layanan paket internet untuk smartphone. Selama ini saya hanya memanfaatkan wifi di kampus, wifi dalam kamar (3,000 yen per bulan), dan free wifi misalnya di seven eleven. Agak susah memang di awal karena terkadang kita jadi susah dihubungi jika sedang berada di luar, namun lama kelamaan akan terbiasa apalagi dengan adanya free wifi di tempat-tempat perbelanjaan misalnya (jadi lebih peka akan adanya free wifi).

5. Part time Job

Bagian ini mungkin opsional saja, jika anda memiliki waktu luang, ingin cari pengalaman bagaimana rasanya part time job di jepang, bisa bahasa jepang (level dapat mengerti dan dimengerti), maka part time job lah pilihan yang tepat. Mengingat hampir semua mahasiswa di jepang menjalani part time job di sela-sela kuliah mereka, saya pun tertarik untuk bisa melakukan part time job atau arubaito ini. Ditambah lagi dengan minumum salary yang tinggi di Jepang. Untuk kota sendai, minimal gaji adalah 750 yen per jam. Cukup banyak bukan? mengingat kerjanya juga tidak "se-romusha" kerja dengan gaji sebesar itu di Indonesia.




Tidak susah untuk tinggal dan hidup di jepang sebenarnya. Kalau mau berhemat, sangat bisa yakni dengan cara memasak sendiri dan bersepeda untuk mobilisasi. Berhemat bukan berarti hidup serba pelit, melainkan menyisihkan sebagian uang yang kita punya untuk dinikmati di akhir minggu bersama orang -orang tersayang. Ada kalanya kita juga butuh rekreasi, maka kita dapat gunakan uang simpanan kita.

#Inequality "Indonesia's Major Problem"

What do you think about Indonesia? Diverse country! Yeah, I have some interesting pictures showing how diverse Indonesia especially the people are.


According to me, Indonesia's most major problem is the income/economics disparity. The income gap sometimes leads to influence people's mindset.

Differences in national income equality around the world as measured by the national Gini coefficient

Kenapa?

Think, income gap causes high criminality, corruption everywhere as well as the rubbish, disgusting flood, and CRAZY TRAFFIC JAM especially in capital city.

Bagaimana bisa income disparity mempengaruhi tingkat kriminalitas?

Kita langsung ambil kasus aja ya. Seseorang yang bekerja di perusahaan multinasional dengan gaji diatas Rp 8.000.0000,- kita bandingkan dengan pedagang kaki lima yang penghasilan tiap bulannya tak menentu, misalnya netto Rp 50.000 per hari. 


Referensi lain yang cukup bagus nih

Yummy Foods in Italia #Eurotrip2015

Duomo Cathedral, Milano, IT


“NOT I – NOT ANYONE else, can travel that road for you, You must travel it for yourself.” – Walt Whitman



I'd never imagined that I was be able to go to another continent of this world. It was like a dream but sure was so beautiful. So, I participated on a conference located in Milano Italy. The conference itself already blew me away. Thank you Microsoft for the support and funding :)
Yeah, I was there during EXPO MILANO 2015. It was totally amazingly stunning place, event, and everything!!!!

Milano, Italy

Hotel's buffet menu, party at the bar, and GELATO(check until the last, you'll find my gelato)!


Halal marked Beef :)
Milan is famous of their heritage and of course their world class football team (AC Milan and Inter Milan). I spent almost 10 days here. At the first time it was not that easy to settle in different country from yours (especially different continent and type of person). I was living in japan before, so I was used to interact with people who says "Thank you" , "I am so sorry" , and "excuse me" all the time. While in europe, people are so blunt. The shop keeper didn't smile to the customer, The cashier in supermarket only said "Grazie" without smiling, Maybe I was too sensitive but It was quite different with anything I got from Japan. Yeah, they had their own way to express and interact with people, I just need to learn more about different kind of people.

For the first 4 days I stayed in 4 Stars Hotel (of course, thanks to microsoft's support and assistance) and ate buffet hotel menu all the time (feels like in paradiseee :D ). After that I moved to my friend's apartment in Milan.

“I see my path, but I don’t know where it leads. Not knowing where I’m going is what inspires me to travel it.” — Rosalia de Castro

Food
Ok, let's first talk about the food. I didn't eat any rice on the first  days. Beef, Chicken, pasta, croissant, and a lot of cakes were my daily menu. First time I was so excited knowing I was granted to eat "all you can eat" food in the hotel, but as the day counts I missed rice so much...

PIZZA

You know what amazing to be in italia? You could eat pizza, yeah very original pizza, where they originally came from. I couldnt find any tomato sauce or mayonnaise on it. Yeah, actually original italian pizzas were never using any sauce or any other thing that could tear the original taste of pizza itself. So my pizza was soooo cheessyyy but it was so delicious. I LOVE IT!
 
This pizza was.......Sooo delicious

Mozzarella and the Pasta


About to eat those mozzarellas

Ultra weird kind of pasta

My kind of dinner on GALA DINNER with amazing people (mostly president of department) from Microsoft, Aviva, ITU, etc.


The salmons

beefs

lets sit and eat as a lady



(just) a little part
Summary, it was a great night. Especially because of the gala dinner was held on the skyscraper building. Looking Milano city from above was something.
Besides, at that dinner, it was first time on my life, I was granted to eat as many salmon as I want, totally so good. I could drink wine (of course) so I just drank mineral water.

Best dinner menu ever!!!

My last night staying at the hotel probably was the best dinner menu ever. Vegetables and very delicious fruit everywhere. The pastas were so good too! I am sure I gained weight that night.




the cake I could eat as much as I want


My everyday breakfast at the Crowne Plaza Hotel San Donato Milanese (all you can eat!)


















GELATO!!!

I love gelato! I could get 2 scopes of gelato with only 2.5-3 euros. Check my next post to know more about my gelato! Catch you soon :)



Claudia

Sendai, JP 
2015